Tumor karsinoid adalah sekelompok tumor sel kromafin
yang timbul di saluran gastrointestinal dan organ
lainnya. Tumor ini jarang ditemukan, di antara tumor
gastrointestinal menempati 1,5%, terjadi pada segala
usia. Pria lebih banyak. 90% lebih tumor karsinoid
terjadi pada saluran gastrointestinal, terutama di
usus buntu, ileum akhir dan rektum, sedikit terjadi
pada kolon, gaster, duodenum, divertikel Meckel dan
duktus koledokus, pankreatik, kelenjar genital, paru
dan bronkus, dll. Umumnya tumor karsinoid terjadi
soliter, sebagian kecil bersifat multifokal.
Ciri yang menonjol dari tumor karsinoid adalah dapat
mensintesis dan sekresi zat bioaktif, terutama 5-HT,
peptida stimulan, histamin, dll. Secara klinis, tumor
karsinoid selain dapat menimbulkan aneka gejala akibat
tumor sendiri (seperti ileus, diare, perdarahan
gastrointestinal), juga akibat sekresi zat bioaktif di
atas dapat timbul berbagai gejala khas seperti eritema
intermiten, berkeringat, rasa panas, palpitasi, kolik,
kardiomegali, asma dll. yaitu sindrom karsinoid.
Operasi reseksi tumor merupakan metode terapi terbaik,
operasi stadium dini hasilnya baik sekali. Untuk tumor
karsinoid yang tak dapat dioperasi radikal, perlu
dilakukan tindakan berikut:
1. Operasi paliatif dan terapi krioablasi: karena yang
mengancam jiwa dari jenis tumor ini tidak selalu
tumornya sendiri, tapi mungkin adalah zat bioaktif
yang dilepaskannya, maka meskipun terjadi metastasis,
pengangkatan tumor primer fungsional yang besar juga
dapat mengurangi gejala. Tumor karsinoid pada bronkus,
teratoma ovarium dan testes dapat langsung melepaskan
zat bioaktif ke dalam sirkulasi darah, sehingga
sebelum terjadi metastasis sudah dapat timbul sindrom
karsinoid, sehingga sering kali ditemukan secara dini.
Operasi terhadapnya sering membawa kesembuhan. Kami
mempunyai satu kasus, tumor timbul di ujung distal
intestin dengan metastasis ke hati. Operasi membuang
tumor di usus halus, terhadap metastasis hati
dilakukan krioablasi, hingga kini ia sudah hidup 3
tahun.
2. Terapi intervensi: hati merupakan organ utama
tempat metastasis tumor karsinoid, maka dapat
digunakan metode embolisasi kimiawi arteri hepatik.
Dari pengalaman atas 111 kasus yang diterapi di Klinik
Mayo Amerika Serikat, setelah terapi embolisasi arteri
hepatik dengan spons gelatin dan granul Ivalon, pada
65% kasus metastasis dalam hati mengecil; pada 82%
kasus kadar zat bioaktif dalam urin menurun, frekuensi
serangan muka merah dan diare berkurang bahkan hilang
sama sekali.
Dengan menggabungkan embolisasi arteri hepatik dan
kemoterapi kemungkinan dapat meningkatkan
efektivitasnya. Satu laporan dari Eropa menunjukkan
tumor karsinoid metastasis ke hati progresif yang
diterapi dengan metode ini, masa efektivitasnya
bertambah 3 kalilipat, mencapai 18 bulan hingga 6
tahun, rata-rata survival mencapai 4 tahun.
3. Imunoterapi: satu penelitian dari Swedia
menunjukkan, dari 36 kasus tumor karsinoid yang
menerima interferon lekosit manusia dan interferon
gama rekombinan, 15 kasus (42%) membaik, pada 4 kasus
(11%) tumor mengecil. Dewasa ini sudah terdapat 300
lebih kasus menerima terapi tersebut, hasilnya serupa
itu.
4. Terapi terhadap sindrom karsinoid: tujuannya adalah
mengurangi sintesis 5-HT, enzim pelepas peptida
stimulan atau melawan efeknya. Banyak obat yang dapat
meningkatkan pelepasan 5-HT, seperti morfin, halotan,
dekstran, tiramin, polimiksin dll. harus dihindari
atau diminimalkan penggunaannya.
Zat analog somatostatin (misal, oktreotida) sudah
berhasil digunakan untuk terapi sindrom karsinoid.
Pasien dapat menyuntikkan sendiri. Dosis awal 15ug
subkutis, 3 kali sehari. Umumnya beberapa menit
setelah suntikan, eritema intermiten lenyap, dalam
beberap jam diare berhenti. Pada kebanyakan kasus
frekuensi eritema jelas berkurang. Kasus yang efektif
dapat meneruskan lebih dari 1-2 tahun, yang terpanjang
mencapai 9 tahun. |