Tumor tiroid merupakan penyakit yang sering ditemukan,
pada umumnya berupa tumor jinak, sebagian kecil berupa
karsinoma, jarang sekali dijumpai sarkoma. Dari
penduduk Amerika Serikat, sekitar 3% dengan perabaan
dapat ditemukan nodul soliter kelenjar tiroid.
Kesulitan terbesar dalam menangani nodul tiroid adalah
dalam memastikan ada tidaknya karsinoma di dalamnya.
Ada yang telah mengumpulkan data sampel tiroid dari
hasil otopsi 1116 kasus dari Jepang, Kanada, Polandia,
Kolombia dan Hawaii, ditemukan adanya kanker
tersembunyi pada 5,6-28,4% kasus, yang tertinggi di
Jepang.
Bagaimana membedakan sifat jinak dan ganas dari nodul
tiroid? Beberapa hal berikut dapat membantu
membedakannya.
1. Usia muda lebih sering menderita keganasan
dibandingkan orang dewasa. Dari nodul soliter tiroid
pada kelompok usia kurang dari 15 tahun, 10-50% adalah
ganas. Keseluruhnya berupa karsinoma tiroid
berdiferensiasi relatif baik. Tapi pada kelompok usia
di atas 60 tahun, kemungkinan kanker juga lebih besar,
terutama berupa karsinoma tidak berdiferensiasi dengan
derajat keganasan tinggi. Kemungkinan wanita menderita
karsinoma papiler tiroid lebih besar sekitar 1 kali
lipat dibanding pria.
2. Nodul tiroid dengan konsistensi condong keras,
tidak terasa adanya kapsul, kemungkinan kanker besar;
jika konsistensi seperti tulang, mungkin terdapat
kalsifikasi, kemungkinan jinak ataupun ganas masih
terbuka; konsistensi sedang, berbatas tegas umumnya
tumor jinak, tapi kadang kala sulit dibedakan dari
karsinoma folikular tiroid stadium dini; tumor kistik
umumnya bersifat jinak, tapi juga mungkin juga
karsinoma folikular tiroid mengalami perubahan kistik.
3. Skening radioisotop tiroid: dengan iodium-131 atau
teknesium-99m dapat menampilkan citra kelenjar tiroid.
Dari citra skening itu, nodul tiroid dapat tampak
sebagai: (1) nodul panas, yaitu daerah nodul memiliki
radiasi lebih tinggi dari jaringan normal sekitarnya,
ini dapat terjadi pada lesi jinak (adenoma folikular)
ataupun ganas (adenokarsinoma folikular); (2) nodul
hangat: intensitas daerah nodul menyerupai jaringan
normal sekitarnya, terutama terjadi pada lesi jinak
tiroid; (3) nodul dingin: radiasi daerah nodul jelas
lebih rendah, sering terjadi pada karsinoma tiroid
tidak berdiferensiasi, karsinoma medular, dll. Dari
nodul dingin 54% adalah keganasan.
4. USG: pemeriksaan ini dapat menentukan bentuk,
ukuran dan jumlah nodul tiroid, dan yang lebih penting
menentukan sifatnya kistik atau padat. Jika sifatnya
padat, harus diwaspadai kemungkinan karsinoma tipe
folikular, karsinoma medular dan karsinoma tidak
berdiferensiasi.
5. Pemeriksaan sitologi dari biopsi jarum halus: di
bawah panduan USG, tumor tiroid dipungsi dan
diaspirasi dengan jarum halus untuk mendapatkan
selnya, pada 90% lebih kasus diagnosis dapat
ditegakkan. Tapi jika tidak ditemukan sel ganas, tidak
dapat menyingkirkan total karsinoma tiroid, karena
lesi dapat bersifat fokal, bila perlu pungsi dan
pulasan sitologi harus diulang.
Meskipun terdapat berbagai metode membedakan tumor
jinak dan ganas tiroid, tapi misdiagnosis tidak jarang
terjadi. Ada kalanya secara klinis didiagnosis sebagai
adenoma soliter, namun dalam operasi ditemukan nodul
multipel dan terdapat kanker. Oleh sebab itu dewasa
ini dianjurkan, setiap nodul tiroid pada dasarnya
harus dioperasi, dengan lobektomi tiroid, bukan
ekstirpasi nodul saja. Dalam operasi dilakukan potong
beku, jika terbukti berupa kanker tiroid
berdiferensiasi baik, cukup mengeksplorasi ada
tidaknya limfadenopati servikal, lalu operasi dapat
ditutup. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan berkala,
tidak akan menyebabkan kanker menyebar. Jika ditemukan
limfadenopati, harus dilakukan pengangkatan kelenjar
limfe.
Setiap pasien yang menjalani tiroidektomi karena
kanker tiroid harus mengonsumsi hormon tiroksin seumur
hidup. Hal ini adalah untuk memenuhi defisiensi hormon
tiroksin tubuh, di samping itu dengan menekan
pelepasan hormon TSH dari kelenjar hipofisis akan
mencegah kekambuhan kanker tiroid. Obat yang biasa
dipakai adalah natrium L-tiroksin, setiap kali
100-150ug peroral. |