Saya terjun ke bidang onkologi (ilmu tentang kanker)
dengan sedikit kisah tragis. Pada tahun 1970, saya
adalah seorang internis muda lulusan FK Nantong,
China. Suatu hari, ibu saya mendadak datang dari
kampung kami yang letaknya jauh. Melihat wajahnya yang
jelas mengurus, saya menyadari bencana akan
menimpanya. Ternyata betul, ia menderita kanker hati
stadium lanjut. Pada waktu itu ilmu kedokteran tidak
memiliki cara mengobati penyakit itu. Ibu dengan cepat
menderita ikterus (kuning), asites, perdarahan, dan
dalam 2 bulan penyakit kejam itu merenggut jiwanya.
Kesedihan atas kepergian ibu memacu saya memasuki
bidang penelitian kanker hati. Selanjutnya, saya dan
pimpinan saya memulai penelitian tentang petanda tumor
hati. Tahun 1991, jurnal terkenal Amerika Serikat
(American Journal of Gastroenterology) memublikasikan
hasil penelitian kami perihal diagnosis kanker hati
dengan £¦GGTII£ª. Pertengahan tahun 1980an, kami
paling awal menggunakan teknik kemoembolisasi
transarteri (TACE) untuk mengobati kanker hati di
China; tahun 1990an paling awal memakai teknik ablasi
dengan radiofrekuensi untuk menterapi kanker hati
kecil; pada peralihan milenium, kami mendirikan RS
Kanker Fuda Guangzhou yang memimpin dalam penerapan
metode krioablasi dengan £¦pisau argon-helium£ª
terhadap kanker hati ££ banyak pasien dapat
diselamatkan. Hati yang sedih akibat ditinggal ibu
kini terobati sebagian.
Pada Agustus 2004, saya berkunjung ke kota Kuching,
ibukota Sarawak, Malaysia, bertandang ke
£¦International Daily£ª, mengetahui bahwa pendiri
harian itu, tuan Huang Wenbin yang luas dihormati di
China, ternyata juga wafat akibat kanker hati. Tuan
Huang telah banyak berjasa bagi pembangunan ekonomi
Malaysia dan persahabatan China-Malaysia. Sebagai
tokoh besar, kematiannya sekali lagi mengguncang saya:
kanker sungguh kejam, dokter tidak berdaya!
Saya pernah membaca sebuah artikel, judulnya £¦Negara
dirambah kanker£ª, di dalamnya tertulis: di
semenanjung Malaya, setiap hari terdapat 58 orang
menderita kanker; setiap tahun dari setiap 100 ribu
orang Tionghoa terdapat 169 pria, 217 wanita menderita
kanker, angka kejadian kanker tersebut lebih tinggi
masing-masing 1 dan 2 kali lipat dibandingkan etnis
India dan etnis Melayu.
Saya telah berkunjung ke kota maupun desa di Malaysia
dan Indonesia, menerima konsultasi dari banyak
penderita kanker. Pada kebanyakan pasien ketika
kankernya terdiagnosis, sudah termasuk stadium lanjut,
sudah luput dari peluang terbaik untuk operasi. Ketika
terapi konvensional tidak berhasil, banyak pasien
kehabisan akal, tidak tahu ke mana harus mencari
terapi yang tepat.
Pada era perkembangan iptek yang pesat sekarang ini,
kanker sudah bukan lagi penyakit yang tak dapat
diobati. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak belasan
tahun silam sudah mengumumkan: 1/3 kanker dapat
dicegah, 1/3 dapat disembuhkan total, 1/3 dapat
diperpanjang umurnya. Mengapa kanker sering kali luput
dari penemuan dini? Mengapa sering kambuh setelah
dioperasi? Bila tidak lagi dapat dioperasi, bagaimana
mengobatinya? Penerangan tentang pencegahan dan
pengobatan kanker sangat penting untuk meningkatkan
penemuan dan pengobatan kanker. Sebagai dokter, kami
perlu mengemban tugas mulia ini.
Terima kasih kepada pimpinan Grup Huang Wenbin, tuan
Huang Guozhong dan tuan Huang Guohui, terima kasih
editor kepala £¦International Daily£ª tuan Li Fuan dan
jajarannya, mereka mengundang saya menulis di
£¦International Daily£ª.Sejak 1 September 2004, saya
menulis satu artikel di kolom £¦Pencegahan dan
Pengobatan Kanker£ª setiap hari, sekitar 1000 aksara
per artikel, memperkenalkan faktor penyebab kanker,
pencegahan, diagnosis, terapi, dan pengalaman
keberhasilan maupun kegagalan pribadi dan RS saya
dalam terapi kanker.
Sungguh menggembirakan, artikel populer tersebut
mendapat sambutan hangat di masyarakat. Banyak orang
perlu membaca £¦International Daily£ª tiap hari, tidak
sedikit yang berkonsultasi dengan saya dengan membawa
koran itu atau lewat telepon. Seorang pembawa acara
senior di stasiun televisi Kuching sering menyisipkan
isi dari artikel tersebut, seorang wartawan
£¦International Daily£ª Indonesia menyalin artikel itu
dari internet, menjilidnya menjadi buku dan
membagikannya secara gratis ke masyarakat.
Hingga 1 September tahun ini, kolom kanker tersebut
tepat berusia 1 tahun, secara keseluruhan sudah berisi
400 ribu aksara. Atas permintaan £¦International
Daily£ª saya sudah melakukan perbaikan dan penambahan
terhadap kumpulan artikel itu untuk dijilid menjadi
buku, memperkaya khazanah bacaan tentang kanker,
diterbitkan oleh £¦International Daily£ª. Mohon
masukan dan petunjuk dari para pembaca.
Ada sebuah film Amerika Serikat berjudul £¦Kehidupan
bagikan sebuah rumah£ª¨×life as a house¨Ø, bercerita
tentang kehidupan 4 bulan terakhir dari seorang pasien
kanker, ia secara gila-gilaan merobohkan dan membangun
kembali rumahnya, agar jiwanya tersimpan di dalam
rumahnya itu. Saya sudah memasuki etape terakhir dalam
kehidupan manusia, saya sungguh merasakan banyak hal
yang belum saya kerjakan, banyak hal yang belum
dikerjakan dengan baik, banyak hal yang ingin saya
kerjakan tapi tidak memiliki kemampuan. Saya berharap
dapat berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi bagi
orang lain dan masyarakat. Bila terbitnya buku ini
dapat mengisi sedikit kehampaan dalam rumah jiwa saya,
itulah kebahagiaan terbesar saya.

Xu Kecheng
RS Kanker FUDA Guangzhou
November 2005. |