Setetes Asa dari Benteng Fuda
Penulis:Muhammad sulhi

Ketidakpercayaan dan keputuseasaan memang musuh manusia. Seperti penggalan puisi di situs resmi Fuda Cancer Hospital Guangzhou, Cina itu. Kadang kita terlalu fanatik berdiri di satu jalan, sehingga menutup mata terhadap jalan-jalan lain. Padahal, jalan yang tak pernah terpikirkan itu barangkali malah bisa lebih menjanjikan.
¡±Buat kami di Fuda, jalan-jalan alternatif itu mutlak keberadaannya. Ya, karena nyawa manusia 'kan sangat berharga. Kami memposisikan diri sebagai rumah sakit kasus-kasus kanker berat, agar dapat memberi alternatif buat orang-orang yang tengah berputus asa atau merasa penyakitnya tak mungkin disembuhkan,¡± tutur Prof. Dr. Xu Ke Cheng, pimpinan RS Kanker Fuda di Guangzhou, China.
Sebagian besar pengunjung RS Fuda memang pasien kanker stadium tinggi.¡± Umur mereka tinggal sekian bulan atau sekian tahun menurut versi dokter di negara masing-masing,¡± cerita Meddy Ali, eksekutif perusahaan asuransi yang juga ¡±alumnus¡± RS Fuda. Di mata Meddy, Prof. Xu dan rekan-rekannya tak hanya memberi harapan, tapi juga benteng terakhir pasien.


A:Pre-treatment
B:Hasil PET-CT terakhir wajah Meddy Ali. Bersih, sperti tak pernah dise-rang Kanker.




Bukan basa-basi
Rasa ingin tahu menggumpal di hati, ketika suatu siang, Prof. Xu berkenan menerima Intisari di sebuah kamar hotel berbintang di bilangan Jln. M.H Thamrin, Jakarta Pusat. Tak sulit mencari kamarnya. Namun, kami harus menunda wawancara sekitar 30 menit karena harus menyaksikan diskusi Prof. Xu dengan seorang pria paruh baya.
Pria paruh baya itu ternyata calon pasiennya. ¡±Percayakan pada kami. Semuanya masih bisa diatasi. Anda tenang saja¡±, tandas Prof. Xu pada pria itu, sebut saja namanya Ramsy, petinggi sebuah perusahaan swasta. Selain kata-kata penuh harapan, wajah Xu yang terang dan selalu dihiasi senyum menjadi hiburan tersendiri buat para pasiennya.
Ramsy, penderita kanker nasofaring (kanker sekitar tenggorokan dan hidung), baru saja ¡±sembuh¡± dari operasi pengangkatan kanker di sebuah rumah sakit beken di Singapura. Di sana rahang Ramsy diangkat. ¡±Kesembuhan¡± itu kemudian harus dibayar mahal. Ternyata ada beberapa fungsi organ yang tak kembali lagi pasca-operasi.
¡±Saya jadi susah makan. Gigi geraham saya diangkat semua,¡± melas Ramsy. Tak jarang, air liur menetes tak terkendali dari celah bibirnya. Prof. Xu, dengan senjata keramahannya terus berusaha meng-hidupkan harapan Ramsy. ¡±Dia memang senang berbicara langsung kepada pasiennya,¡± imbuh Meddy Ali. I'll try the best, i'll try the best,¡± tegas Xu berulang kali, tanpa terkesan ber-basa-basi.
Tergoda kemo-terapi lokal
Meski sama-sama pernah menderita nasofaring, nasib Meddy Ali jauh lebih beruntung ketimbang Ramsy. Lelaki berambut ikal ini langsung mencari tahu metode pengobatan yang tepat untuk kanker stadium 4-nya. Saat itulah, seorang dokter menganjurkannya pergi ke RS Kanker Fuda.
Fuda? Meddy sempat bertanya-tanya. Orang In-donesia 'kan biasanya lebih suka ke Singapura ketimbang Cina. Namun, makin banyak informasi yang masuk, makin membulatkan keinginan Meddy pergi ke Cina. Akhirnya, Mei 2004, ia bersama istri berangkat ke Fuda. Sampai akhir Juni 2004, Meddy ¡±dihajar¡± dengan immuno-therapy, kemoterapi local, dan photodynamic therapy.
Pengobatan immunotherapy ditandai dengan pengambilan darah pasien. Lewat proses laboratorium, darah itu ¡±dipersenjatai¡± dengan obat sakti untuk menumpas selsel kanker. Lalu ketika dimasukkan kembali ke dalam tubuh, darah itu tak hanya berfungsi menggalang system kekebalan badan, tapi juga mengurangi agresivitas sel kanker.
Kemoterapi lokal (tak seperti kemoterapi biasa yang memobili-sasi obat lewat aliran darah sehingga hanya sebagian kecil obat sampai ke sel kanker) langsung mengarahkan kateter dan obat yang dibawanya pada permukiman sel kanker. Karena bersifat lokal, kemo ini tidak berpengaruh buruk terhadap organ tubuh lain.
Sedangkan photodynamic the rapy menempatkan pasien pada ruang gelap tanpa sinar Matahari (yang dianggap sebagai pemicu ber-kembangnya sel kanker). Tubuh pasien kemudian disinari dengan laser. Reaksi kimia yang muncul dari gabungan laser, oksigen, dan photosensitive itulah yang berperan sebagai pencerai-berai sel kanker.
Tujuh belas hari kemudian, Meddy dipersilakan kembali ke Jakarta. Ia sempat beristirahat 18 hari, sebelum akhirnya kembali ke Guangzhou untuk melanjutkan terapi. Untuk ketiga kalinya ia kembali ke Fuda sekitar akhir Oktober 2004. Kali ini Meddy diterapi selama 10 hari.
Ajaib, awal November 2004, Meddy sudah bisa pulang ke Indonesia dengan senyum sumringah. ¡±Kunjungan terakhir saya ke Fuda, bulan Februari 2005 lalu, hanya untuk kontrol,¡± jelasnya riang. Hasil PET-CT menunjukkan, tubuhnya sudah bersih dari gangguan nasofaring. ¡±Saya tak menyangka, masih bias hidup normal seperti ini lagi,¡± tambahnya dengan mata basah.
Kanker dilumer-kan
Hal senada dirasakan Jasin Halim, orangtua Steve Halim, vice president Marketing SCTV. Jasin yang tak pernah melakukan medical check-up selama 10 tahun, Januari 2000 lalu bak disambar petir, ketika tiba-tiba divonis kanker paruparu stadium 4. ¡±Ketika bapak mengeluh sering sesak napas, mulanya saya kira Cuma sesak napas biasa,¡± cerita Steve.
Konon, kanker di paru-paru kiri jasin itu sudah mencapai ukuran 10,5cm. Saat diperiksa di sebuah rumah sakit ternama di bilangan kebonjeruk, Jakarta barat, steveharus menelan pil pahit. Dokter senior yang memeriksa jasin hanyabisa mengusulkan kemoterapi konvensional. Namun, yang lebih membuat Steve terkapar adalah komentar susulan sang dokter.
¡±Dia bilang, dari 100 orang penderita kanker stadium 4, biasanya dalam enam bulan jumlahnya akan berkurang menjadi 5-6 orang saja. Lalu dalam jangka waktu setahun, tinggal 1-2 orang,¡± tutur Steve. Dengan kata lain, si dokter ingin bliang, secara medis umur Jasin tinggal dalam hitungan bulan atau tahun saja. Alamaaak!
Makanya, ketika seorang kawan mengan-jurkan Steve menjajal kemoterapi lokal di RS Fuda, Steve langsung setuju. ¡±Akhir Januari, kami berangkat ke Guangzhou. Di sana, bapak tak hanya diobati dengan immunotherapy dan kemo lokal, tapi juga photodynamic therapy dan cryoablation,¡± tambah Steve.
Inti terapi cryoablation adalah menyuntik kanker dengan jarum yang telah dibekukan pada suhu 180¡æ. Dengan metode ablasi ini, kanker tidak perlu diangkat (seperti dalam operasi konvensional), tapi cukup diperkecil dan terus diperkecil dengan cara diulmerkan langsung di dalam tubuh.
Bulan Maret 2005, Jasin kembali ke Jakarta. Mumpung ada waktu, ¡±Saya bawa bapak ke RS Persahabatan untuk CT Scan. Hasilnya ajaib, ukuran kankernya mengecil sampai 85%. Dokter yang memeriksa sampai heran, apalagi setelah tahu, prosesnya terjadi hanya dalam satu setengah bulan.¡±
Setelah itu, Jasin kembali ke Guangzhou untuk menyem purnakan pengobatan. ¡±Dengan dua kali kemoterapi lokal, kankernya langsung bersih. Kadang saya tak habis pikir, kok bias secepat ini?¡± nada suara Steve penuh haru.
Prof. Xu dan kawan-kawan Fuda-nya pasti tak akan bisa mengingat dengan baik nama-nama bekas pasiennya, yang jumlahnya bejibun. Namun, keikhlasan Fuda memposisikan diri sebagai rumah sakit kanker ¡±kelas berat¡± telah menolong. banyak pasien gawat, seperti Meddy Ali dan Jasin Halim.



|