NOVEL MODALITIES
Cryoablation dengan argon dan helium

Photodynamic Therapy (PDT)

Pengobatan dengan Seeds knife dan radio stent
Trans arterial intervention therapy
Percutaneous Radiofrequency (RF) ablation
Terapi Anti angiogenesis

Anti-Tumor immunotherapy dengan DC Vaccine

Suppressor gene therapy
Regional Immunotherapy in tumor bed (for glioma)
Percutaneous Chemical ablation
Chinese Medication treatment
 
TCM Therapy
   Introduction

   Prevention Theory

   Therapeutic Principles
   ICWM
 
KANKER Types
KANKER ESOFAGUS
KANKER USUS BESAR
KANKER KANDUNG EMPEDU
MESOTELIOMA GANAS PERITONEUM
KANKER HATI
TUMOR KARSINOID
KANKER GINJAL
KANKER LAMBUNG
KANKER PARU
KANKER NASOFARING
KARSINOMA MAMAE
KARSINOMA UTERI
KANKER PROSTAT
KANKER LEHER RAHIM
KANKER OVARIUM
MELANOMA MALIGNA
TERAPI TERHADAP TUMOR TIROID
TERAPI TERHADAP KEGANASAN BERGANDA
 
Contact Us

Address:

No 167 west Xingang Rd Guangzhou
Tel: 86-20-84105192
86-20-84468003

13511152120
Fax:86-20-84195515
Email:xukc@vip.163.com
 
KANKER Types
 

KANKER: KALAU TAK BISA DIOPERASI, BAGAIMANA

 
 

MESOTELIOMA GANAS PERITONEUM: TAK DAPAT DIOPERASI, BAGAIMANA TERAPINYA?

Mesotelioma ganas peritoneum jarang ditemukan.

Kejadiannya berkaitan dengan kontak dengan asbes.

Serat asbes yang tertelan, melalui dinding usus

mencapai selaput peritoneum dan menimbulkan penyakit

ini. Sejak kontak dengan asbes hingga terdiagnosis,

atau masa laten penyakit ini dapat mencapai 25-40

tahun. Sering ditemukan pada pria di atas 40 tahun.

Peritoneum viseral maupun parietal dapat terkena.

Kanker ini dapat menginvasi organ abdomen dan pelvis;

50-70% pasien dengan metastasis secara limfogen dan

(atau) hematogen ke tempat jauh, sering ke hati,

ginjal, adrenal, paru, tulang, kelenjar limfe dll.

Presentasi klinisnya tidak khas, dapat berupa sakit

perut, konstipasi, kembung, penurunan berat badan dan

gejala lain ileus. Pemeriksaan fisik dapat menemukan

asites atau tumor intra-abdomen dll. Asites berupa

eksudat, sebagian hemoragis. Hingga kini belum

terdapat formula terapi baku yang efektif.

Untuk kasus dini atau lesi terlokalisasi, pilihan

pertama adalah operasi. Teknik operasi meliputi

pengurangan massa tumor, mengangkat semaksimal mungkin

tumor yang tampak.

Tapi karena lesi ini difus, tingkat kesulitan operasi

tinggi, teknik konvensional sulit membersihkannya.

Metode berikut dapat digunakan sendiri atau secara

kombinasi:

1. Operasi dan terapi fotodinamik: sebelum operasi

disuntikkan zat fotosensitif, 48 jam kemudian

dioperasi, tumor yang tampak sedapat mungkin diangkat.

Lalu dengan serat optik diberi sinar laser menyinari

seluruh rongga peritoneum, titik berat pada lokasi

kanker, ini disebut terapi fotodinamik. Pada 24 pasien

di Amerika Serikat, setelah terapi ini 15 pasien dapat

bertahan 2 tahun lebih, sedangkan 25 pasien yang tidak

diterapi demikian hanya 4 kasus yang hidup lebih dari

2 tahun. Kami telah memakai metode ini atas 4 pasien,

3 pasien sudah hidup lebih dari 15 bulan.

2. Terapi pemanasan rongga peritoneum: pemberian obat

intraperitoneal dapat meningkatkan konsentrasi obat

setempat, mengurangi efek buruk sistemik. Yang sering

dipakai adalah FU, DDP, CPT dll., seminggu sekali,

sesuai kondisi penyakit dapat diberikan beberapa pekan

berturut-turut. Seorang ahli Amerika Serikat pernah

memberikan DDP dan lainnya secara intraperitoneal

kepada satu pasien yang tak dapat dioperasi, hasilnya

di luar dugaan: pasca operasi 223 hari tumor dan

asites hilang total. Bila ke dalam obat yang

disuntikkan diberi pemanasan hasilnya akan lebih baik.

Kami menggunakan metode pemanasan infus DDP

intraperitoneal kontinu atas 6 kasus. Pada awal infus,

rata-rata dosis DDP adalah 120mg/cc, volume infus 1,5L

per menit, rata-rata diinfuskan 5,1L. setelah infus 90

menit, temperatur 3 lokasi intraperitoneal diukur

hasilnya masing-masing adalah 41.5¡Í, 40.5¡Í dan

41.1¡Í, konsentrasi obat dalam larutan infus adalah 21

kali lipat dari darah, sedangkan konsentrasi dalam

plasma darah sama dengan penggunaan obat sistemik.

Selama terapi tidak ada reaksi buruk mencolok. 5 kasus

telah bertahan 18 bulan ke atas.

3. Bioimunoterapi intraperitoneal: interleukin,

interferon, TNF dan sitokin lain dapat langsung

membunuh sel tumor, atau mengaktifkan sel pembunuh

tumor dalam tubuh, hingga kondisi membaik. Kami

menyuntikkan intraperitoneal sejenis vaksen dari

dinding sel kuman khusus yang disebut S311, hasilnya

ternyata lebih baik daripada penyuntikan zat sitokin

di atas. Misalnya seorang pasien dari Chongqing, 35

tahun, telah mendapat radioterapi, kemoterapi

sistemik, terapi gen (P53) dll. tidak berhasil, pasien

sangat pesimistik, sudah nyaris putus asa terhadap

terapi. Kami memberinya kemoterapi intraperitoneal

kontinu dipanaskan 8 kali, hasilnya kurang nyata, lalu

memberinya suntikan S311 intraperitoneal, setelah

terapi 5 kali, asitesnya hilang. Kemudian dengan cara

serupa kami menterapi 3 pasien lagi, semuanya

menunjukkan efek jangka pendek yang baik.

Juga dapat dilakukan pengumpulan, pemisahan sel

limfosit dari cairan asites pasien, direplikasi di

luar tubuh, diinduksi agar menjadi sel khusus pembunuh

sel kanker yang disebut sel LAK, sel itu disuntikkan

ke dalam vena atau intraperitoneal, sering kali

efektif membasmi sel kanker. Kami pernah melakukan ini

atas 2 pasien yang dikemoterapi, disuntikkan sel ini

secara intraperitoneal, hasilnya asites berkurang,

tumor secara bertahap lenyap.

 
Copyright©Fuda Cancer hospital Guangzhou
Address:No.167.West Xingang Rd,Guangzhou P.C£º510300
Tel:020-84105192¡¢84468003¡¡13511152120¡¡Fax£º020£­84195515
Email£º xukc@vip.163.com