Mesotelioma ganas peritoneum jarang ditemukan.
Kejadiannya berkaitan dengan kontak dengan asbes.
Serat asbes yang tertelan, melalui dinding usus
mencapai selaput peritoneum dan menimbulkan penyakit
ini. Sejak kontak dengan asbes hingga terdiagnosis,
atau masa laten penyakit ini dapat mencapai 25-40
tahun. Sering ditemukan pada pria di atas 40 tahun.
Peritoneum viseral maupun parietal dapat terkena.
Kanker ini dapat menginvasi organ abdomen dan pelvis;
50-70% pasien dengan metastasis secara limfogen dan
(atau) hematogen ke tempat jauh, sering ke hati,
ginjal, adrenal, paru, tulang, kelenjar limfe dll.
Presentasi klinisnya tidak khas, dapat berupa sakit
perut, konstipasi, kembung, penurunan berat badan dan
gejala lain ileus. Pemeriksaan fisik dapat menemukan
asites atau tumor intra-abdomen dll. Asites berupa
eksudat, sebagian hemoragis. Hingga kini belum
terdapat formula terapi baku yang efektif.
Untuk kasus dini atau lesi terlokalisasi, pilihan
pertama adalah operasi. Teknik operasi meliputi
pengurangan massa tumor, mengangkat semaksimal mungkin
tumor yang tampak.
Tapi karena lesi ini difus, tingkat kesulitan operasi
tinggi, teknik konvensional sulit membersihkannya.
Metode berikut dapat digunakan sendiri atau secara
kombinasi:
1. Operasi dan terapi fotodinamik: sebelum operasi
disuntikkan zat fotosensitif, 48 jam kemudian
dioperasi, tumor yang tampak sedapat mungkin diangkat.
Lalu dengan serat optik diberi sinar laser menyinari
seluruh rongga peritoneum, titik berat pada lokasi
kanker, ini disebut terapi fotodinamik. Pada 24 pasien
di Amerika Serikat, setelah terapi ini 15 pasien dapat
bertahan 2 tahun lebih, sedangkan 25 pasien yang tidak
diterapi demikian hanya 4 kasus yang hidup lebih dari
2 tahun. Kami telah memakai metode ini atas 4 pasien,
3 pasien sudah hidup lebih dari 15 bulan.
2. Terapi pemanasan rongga peritoneum: pemberian obat
intraperitoneal dapat meningkatkan konsentrasi obat
setempat, mengurangi efek buruk sistemik. Yang sering
dipakai adalah FU, DDP, CPT dll., seminggu sekali,
sesuai kondisi penyakit dapat diberikan beberapa pekan
berturut-turut. Seorang ahli Amerika Serikat pernah
memberikan DDP dan lainnya secara intraperitoneal
kepada satu pasien yang tak dapat dioperasi, hasilnya
di luar dugaan: pasca operasi 223 hari tumor dan
asites hilang total. Bila ke dalam obat yang
disuntikkan diberi pemanasan hasilnya akan lebih baik.
Kami menggunakan metode pemanasan infus DDP
intraperitoneal kontinu atas 6 kasus. Pada awal infus,
rata-rata dosis DDP adalah 120mg/cc, volume infus 1,5L
per menit, rata-rata diinfuskan 5,1L. setelah infus 90
menit, temperatur 3 lokasi intraperitoneal diukur
hasilnya masing-masing adalah 41.5¡Í, 40.5¡Í dan
41.1¡Í, konsentrasi obat dalam larutan infus adalah 21
kali lipat dari darah, sedangkan konsentrasi dalam
plasma darah sama dengan penggunaan obat sistemik.
Selama terapi tidak ada reaksi buruk mencolok. 5 kasus
telah bertahan 18 bulan ke atas.
3. Bioimunoterapi intraperitoneal: interleukin,
interferon, TNF dan sitokin lain dapat langsung
membunuh sel tumor, atau mengaktifkan sel pembunuh
tumor dalam tubuh, hingga kondisi membaik. Kami
menyuntikkan intraperitoneal sejenis vaksen dari
dinding sel kuman khusus yang disebut S311, hasilnya
ternyata lebih baik daripada penyuntikan zat sitokin
di atas. Misalnya seorang pasien dari Chongqing, 35
tahun, telah mendapat radioterapi, kemoterapi
sistemik, terapi gen (P53) dll. tidak berhasil, pasien
sangat pesimistik, sudah nyaris putus asa terhadap
terapi. Kami memberinya kemoterapi intraperitoneal
kontinu dipanaskan 8 kali, hasilnya kurang nyata, lalu
memberinya suntikan S311 intraperitoneal, setelah
terapi 5 kali, asitesnya hilang. Kemudian dengan cara
serupa kami menterapi 3 pasien lagi, semuanya
menunjukkan efek jangka pendek yang baik.
Juga dapat dilakukan pengumpulan, pemisahan sel
limfosit dari cairan asites pasien, direplikasi di
luar tubuh, diinduksi agar menjadi sel khusus pembunuh
sel kanker yang disebut sel LAK, sel itu disuntikkan
ke dalam vena atau intraperitoneal, sering kali
efektif membasmi sel kanker. Kami pernah melakukan ini
atas 2 pasien yang dikemoterapi, disuntikkan sel ini
secara intraperitoneal, hasilnya asites berkurang,
tumor secara bertahap lenyap. |