Terapi karsinoma mamae telah mengalami banyak
perubahan. Pada tahun 1897, Halsted merancang operasi
mastektomi radikal, itu menjadi tonggak sejarah dalam
terapi karsinoma mamae. Tapi mastektomi radikal bukan
hanya kejam tapi juga merusak estetika wanita, juga
mempengaruhi keluarga, profesi, sikap hidup, kesehatan
psikologis dan aspek lain kaum wanita. Meskipun
demikian,operasi cara Halsted terus mendominasi
selama setengah abad lebih. Dewasa ini operasi kanker
payudara telah berubah dari konsep £¦terapi maksimal
yang dapat diterima£ª menjadi £¦terapi minimal yang
efektif£ª.
Pilihan pertama dalam terapi karsinoma mamae adalah
operasi, pasca operasi diberikan radioterapi dan
kemoterapi. Untuk karsinoma mamae yang tidak dapat
dioperasi dapat dilakukan berikut ini:
1. Krioablasi argon-helium: di bawah penglihatan
langsung dan panduan USG dapat dilakukan krioablasi
terhadap jaringan kanker dan kelenjar limfe
metastatik, secara maksimal membasmi jaringan kanker,
mengurangi beban tumor.
2. Kemoterapi dan radioterapi: biasanya dilakukan
kemoterapi kombinasi, pada awalnya dengan CTX, MTX, FU
atau CTX, ADR, FU, efektivitas 50-60%, masa remisi
antara 1-2 tahun, belakangan ini digunakan kemoterapi
kombinasi taksol plus PDD, efektivitas meningkat
sekitar 10%.
Taksol pernah dinilai sebagai kemajuan penting dalam
kemoterapi kanker mamae. Tapi obat itu dapat
menimbulkan reaksi alergi pada 30% pasien, dapat
terjadi syok, hipotensi, udem, dll. Penelitian lebih
jauh menemukan reaksi buruk itu bukan disebabkan obat
itu sendiri, tapi dari cairan yang melarutkannya.
Untuk mengatasi masalah itu, Amerika Serikat paling
awal merekacipta sejenis taksol skala nano, disebut
Abraxene, yaitu meletakkan taksol pada granul albumin
berukuran nanometer. Satu nanometer sama dengan
sepersejuta mm. Taksol ukuran nano atau Abraxene yang
hanya sebesar 1% dari ukuran eritrosit, setelah
diinfuskan ke dalam darah dapat menembus dinding
vaskular memasuki sel kanker. FDA Amerika Serikat pada
Januari 2005 mengijinkan obat ini untuk terapi kanker
mamae metastatik. Pada 454 kasus kanker mamae obat itu
telah diteliti dibandingkan taksol semula, ditemukan
taksol nano itu memiliki efek terapi jelas lebih baik
dari taksol semula, dan efek buruknya juga lebih
rendah.
3. Kemoterapi intervensi: melalui kateter intra-arteri
disuntikkan obat kemoterapi dapat meningkatkan
konsentrasi obat setempat, mengurangi efek buruk
sistemik.
4. Terapi hormonal: timbul dan berkembangnya kanker
mamae berkaitan erat dengan estrogen dan hormone
lainnya, sehingga pada pasien dengan sel kanker
positif mengandung reseptor estrogen (ER) dan/atau
reseptor progesteron (PR), terutama pasien wanita masa
menopause, harus mendapatkan terapi hormonal.
Ovariektomi, pengangkatan sumber estrogen, pernah
menjadi cara terapi untuk kanker mamae yang kambuh
pasca operasi atau yang tidak dapat dioperasi, tapi
karena kemajuan obat antihormon estrogen, kini cara
itu sudah jarang digunakan. Obat yang sering dipakai
adalah tamoksifen, digunakan berturut-turut 5 tahun
lebih. Belakangan ini terdapat obat jenis baru yaitu
anastrazol yang sudah digunakan secara klinis dan
ternyata lebih efektif dibandingkan tamoksifen.
Dibandingkan tamoksifen, obat itu dapat membuat
kekambuhan pasca operasi kanker mamae turun 21%,
kejadian metastasis turun 14%, terjadinya kanker mamae
kontralateral berkurang 42%. Di antara kanker mamae
yang tidak dapat dioperasi, terapi hormonal harus
digunakan secara rutin.
5. Terapi reseptor target: proto-onkogen sel HER-2
dapat mengekspresikan sejenis protein HER-2, yaitu
protein reseptor faktor pertumbuhan epidermis manusia.
Bila protein ini overekspresi di permukaan sel, sel
dapat menjadi hiperaktif hingga terjadi proliferasi
sel tak terbatas, onkogenesis. Jika protein reseptor
itu disekat, sel kanker akan dapat dikendalikan, lalu
terjadi apoptosis. Dewasa ini terdapat sejenis obat,
yaitu Herceptin, yang merupakan antibodi monoklonal
khusus, dapat berikatan dengan protein reseptor HER-2,
sehingga reseptor itu menjadi nonaktif. Dalam
eksperimen hewan, obat itu secara jelas dapat
menghambat pertumbuhan sel kanker mamae dan sel kanker
ovarium. Bila ia dipakai bersama obat kemoterapi dapat
meningkatkan efektivitasnya. Sebagai obat tunggal, ia
memiliki efektivitas 56% pada kanker mamae stadium
lanjut.
6. Terapi imunomodulasi: vaksen tumor sel dendritik
dan sel CIK dapat digunakan. |