Terapi kanker paru terlebih dahulu harus
mempertimbangkan tipe patologik anatomiknya: jenis sel
kecil (SCLC) atau bukan sel kecil (NSCLC). Kanker paru
jenis sel kecil sering kali bermetastasis sejak awal,
tapi peka terhadap kemoterapi, maka umumnya dianjurkan
untuk kemoterapi lebih dahulu, setelah metastasis
sistemik terkendali, barulah dilakukan radioterapi
atau operasi terhadap lesi yang masih ada. Dalam pada
itu fungsi imunitas pasien harus dijaga selama proses
tersebut. Efektivitas jangka pendek kemoterapi dan
radioterapi terhadap SCLC adalah sekitar 80%, 20-80%
pasien mengalami remisi total pasca terapi, tapi
efektivitas jangka panjang relatif buruk. Terhadap
kanker paru jenis bukan sel kecil (NSCLC), sedapat
mungkin dioperasi sejak awal, setelah itu barulah
diradioterapi dan kemoterapi untuk mengendalikan
metastasis dan lesi yang tertinggal. Pasien stadium
dini tanpa metastasis kelenjar limfe, survival 5 tahun
pasca operasi radikal dapat mencapai 65-83%, tapi
kanker stadium lanjut sulit dioperasi tuntas, angka
kekambuhan pasca operasi sangat tinggi.
Kanker paru yang tidak dapat dioperasi adalah: yang
sudah menyebar setempat, terdapat metastasis ke
mediastinum sesisi dan/atau ke kelenjar limfe
subkarina; dengan metastasis di luar paru; kekambuhan
pasca operasi. Terhadap kasus demikian umumnya
dilakukan tindakan berikut ini:
1. Radioterapi: dosisnya 40-55Gy, diberikan dalam
20-30 kali, pada 35-50% kasus tumor dapat mengecil.
2. Kemoterapi: dapat dipilih dari beberapa obat
kemoterapi baru, terutama obat yang belum pernah
digunakan pasien. Terhadap kanker paru sel kecil dapat
dipilih taksol, taksoter, topotekan, gemsitabin,
novelbin, CPT-11, efektivitas obat-obatan ini terhadap
kasus baru berkisar 27-52%, terhadap kasus yang pernah
mendapat kemoterapi sebelumnya adalah 10-41%. Terhadap
kanker paru bukan sel kecil, terutama menggunakan
golongan platinum dan obat baru seperti gemsitabin,
taksol, dll. dengan efektivitas 1 tahun 20-41%.
3. Krioablasi argon-helium: sejak Maret 2001 hingga
Agustus 2004 di RS kami terdapat 380 kasus kanker paru
bukan sel kecil menerima terapi krioablasi perkutan.
Di antaranya yang sudah ditelusuri lebih dari 4 tahun
terdapat 80 kasus. Cara terapi ini adalah dengan
peralatan krioablasi argon-helium, di bawah panduan
CT-scan, probe ditusukkan hingga ke pusat tumor lalu
dilakukan krioablasi. Perbaikan gejala pasca tindakan:
nyeri dada 79,5%, batuk darah 76,2%, batuk 73,1%,
sesak napas 75%. Pada 29,1% pasien kankernya lenyap,
44,1% kankernya mengecil lebih dari separuhnya.
Survival: 1 tahun 65%, 2 tahun 56%, 3 tahun 48%, 4
tahun 38%. Komplikasi yang timbul yaitu pneumotoraks
pada 3 kasus, hemotoraks pada 6 kasus, infeksi paru
pada 7 kasus, dapat disembuhkan dengan terapi yang
sesuai.
4. Terapi fotodinamik: terhadap kanker trakeobronkial
stadium dini, terapi fotodinamik dapat membawa
kesembuhan; terhadap kanker paru stadium lanjut,
khususnya yang tidak dapat dioperasi, metode ini dapat
memperbaiki keluhan, menghilangkan atelektasis.
5. Terapi kombinasi fotodinamik dan krioablasi
argon-helium: penggunaan gabungan terapi fotodinamik
dan krioablasi perkutan dapat membersihkan lesi di
dalam dan di luar bronkus, keduanya saling melengkapi.
Di RS kami sejak Juni 2002 hingga April 2004 terdapat
41 kasus kanker paru obstruktif jenis bukan sel kecil,
pertama-tama diberikan terapi fotodinamik, lalu
krioablasi perkutan, hasilnya 90,2% pasien mengalami
perbaikan subjektif yang bervariasi, perbaikan sesak
napas paling menonjol; pemeriksaan ulang bronkoskopi
menemukan tumor endobronkial pada semua pasien
mengalami pengecilan bervariasi, bahkan 41,5% lenyap
total; pemeriksaan ulang CT menemukan kanker di dalam
paru-paru lenyap total pada 34,1% pasien, mengecil
lebih dari separuh pada 41,4%; pada pasien dengan
hasil ronsen toraks sebelumnya dengan kolaps,29,6%
kolaps lenyap, 70,4% kolaps berkurang; survival
setengah dan satu tahun masing-masing mencapai 94% dan
71%.
6. Imunoterapi: dapat digunakan interleukin-2, sel
pembunuh diinduksi sitokin (CIK), vaksen tumor sel
dendritik, dll. Kami pernah menterapi 31 kasus kanker
paru dipersulit efusi pleural maligna, setiap minggu
disuntikkan intrapleural satu kali dengan vaksen kuman
khusus S311, dilakukan 5-8 kali berturut-turut, angka
lenyapnya hidrotoraks 91%.
7. Terapi herba China: dengan formula bersifat
£¦yiqiyangyin£ª (memupuk energi memelihara organ),
membersihkan panas menawarkan racun, pada eksperimen
pada mencit terbukti berefek menghambat secara nyata
kanker paru dan sarkoma, menghambat sintesis DNA sel
kanker, membuat sel kanker terhenti pada fase sintesis
(S), menghambat sel kanker memasuki fase G1. pemakaian
klinis menunjukkan formula tersebut dapat memperbaiki
gejala, memperpanjang survival pasien. |