Ovarium terletak di kedalaman rongga pelvis. Bila
timbul kanker, biasanya tanpa gejala pada awalnya
sehingga sulit ditemukan, membuat diagnosis tertunda.
Ketika lesi berkembang dan timbul gejala, sering kali
sudah bukan stadium dini. Maka terdapat 60-70% pasien
kanker ovarium saat didiagnosis sudah terdapat
metastasis di luar ovarium.
Penyebab kanker ovarium hingga kini belum jelas, tapi
faktor lingkungan dan hormonal berperan penting dalam
patogenesisnya. Di dunia insiden kanker ovarium
tertinggi terdapat di Norwegia (15,3/100.000),
terendah di Jepang (3,2/100.000), selisihnya 5
kalilipat. Insiden pada orang kulit putih Amerika
Serikat adalah 12,9/100.000, lebih tinggi dari etnis
Tionghoa yang bermukim di Los Angeles (8,5/100.000),
lebih tinggi dari China daratan (5,0/100.000) dan
Hongkong (5,8/100.000).
Tampilan patologik kanker ovarium sangat rumit,
terutama adalah tumor sel epitel superfisial.
Manifestasi klinisnya terutama berupa rasa tidak enak
perut bawah atau tenesmus, pada stadium awal dapat
timbul asites; dengan cepat kanker tumbuh melampaui
kavum pelvis hingga ke abdomen hingga teraba massa;
haid tidak teratur, dapat timbul perdarahan per
vaginam. Pemeriksaan USG, CT dan MRI merupakan cara
diagnosis utama.
Prinsip terapi kanker ovarium adalah operasi sebagai
dasar dari terapi kombinasi. Lingkup operasi harus
mencakup uterus dan penunjangnya, diekstensi hingga
membuang omentum.
Prinsip terapi kanker ovarium stadium lanjut adalah
dengan syarat tidak membahayakan jiwa pasien, sedapat
mungkin dilakukan operasi regular, dan sedapat mungkin
membuang lesi primer dan semua metastasisnya; jika
tidak dapat diangkat seluruhnya, paling baik
mengurangi diameter lesi yang tersisa hingga kurang
dari 2mm, karena lesi kecil pasca operasi, khususnya
nodul dengan diameter kurang dari 2mm dapat dengan
kemoterapi dan lainnya dikendalikan hingga mencapai
remisi jangka panjang, bahkan kesembuhan.
RS kami telah menerapi 16 kasus kanker ovarium stadium
lanjut dengan efektivitas 76%, di antaranya 1 kasus
warga Malaysia dengan asites masif ketika datang
disertai metastasis kelenjar limfe supraklavikular,
kakektik, setelah menjalani terapi gabungan, lesi
seluruhnya lenyap, hingga kini hidup sehat sudah lebih
dari 10 tahun. Metode terapi utama kami adalah:
1. Kemoterapi dengan pemanasan intraperitoneal:
melalui insisi perkutan dimasukkan dua tabung silikon
intraperitoneal, satu diletakkan di permukaan hati
subdiafragma, satu lagi di resesus posterior kavum
pelvis, ujungnya difiksasi di dinding abdomen. Obat
yang diinfuskan biasanya FU, DDP, CTX dll. di dalam
3000-4000cc larutan garam faal. Sebelumnya larutan itu
dipanaskan hingga 42oC, dan upayakan temperatur itu
dipertahankan. Lalu melalui satu tabung silikon
dialirkan ke rongga abdomen, setelah 8-12 jam larutan
dikeluarkan lewat tabung yang lainnya. Kecepatan
pemberian adalah 500cc per jam. Setiap minggu
dilakukan 1-2 kali. Efek buruknya berupa sakit perut,
untuk itu dapat serentak diberikan lidokain
intraperitoneal.
2. Imunoterapi intraperitoneal: masukkan tabung ke
rongga pelvis, abdomen, suntikkan obat kemoterapi, 1-2
kali per minggu, serentak disuntikkan imunomodulator,
umumnya digunakan vaksen kuman Serratia marcescen
(S311), 1cc per kali. Pasca injeksi dapat timbul demam
yang mencapai 39oC, 2-3 jam kemudian reda spontan.
Demam pertanda respons imun bekerja, tidak akan
berdampak buruk.
3. Krioablasi argon-helium: terhadap massa ovarium,
tidak peduli itu lesi primer atau metastasis rongga
pelvis dan dinding abdomen, dapat memakai krioablasi
argon-helium. Metode ini setara dengan operasi
debulking, rudapaksa bagi pasien jauh lebih kecil
dibandingkan operasi.
4. Terapi intra-arteri: melalui arteri femoralis
dimasukkan kateter hingga mencapai arteri ovarial,
suntikkan emulsi campuran kemoterapi (misal DDP) dan
lipiodol. Jepang melaporkan terapi dengan cara ini,
setelah 1 bulan massa ovarium menyusut rata-rata 49%.
Kami sering mengombinasikan cara ini dengan krioablasi
argon-helium. Seorang pasien dari kota Shenyang di
RRC, usia 56 tahun, kavum pelvis penuh dengan tumor
disertai asites, setelah terapi intra-arteri dan
krioablasi argon-helium, lesi lenyap total, hingga
kini 18 bulan tidak tampak kekambuhan. |