Operasi merupakan tindakan terapi dasar untuk kanker
leher rahim. Kasus stadium dini harus diupayakan
dioperasi. Kekurangannya adalah lingkup operasi luas,
rudapaksa besar. Sewaktu operasi dapat timbul
komplikasi yang cukup serius, pasca operasi lambat
pemulihannya. Tapi satu kali operasi sering kali dapat
membersihkan lesi secara total. Pada pasien usia muda,
operasi dapat mempertahankan fungsi ovarium normal.
Radioterapi hasilnya hampir sama dengan operasi untuk
kasus stadium dini, dan sesuai untuk setiap stadium,
kekurangannya adalah dapat timbul rudapaksa permanen
terhadap organ dan jaringan sekitar leher rahim.
Radioterapi dahulu menggunakan radioterapi
intrakavital konvensional, dengan Ra-236 dan Cs-137
sebagai sumber radiasi. Dewasa ini kebanyakan
digunakan brakiterapi intrakavital, mula-mula wadah
tanpa sumber radiasi diletakkan dalam rahim atau
vagina, lalu sumber radiasi dimasukkan ke wadah
melalui peralatan yang dikendalikan komputer. Sumber
radiasi yang biasa dipakai adalah Co-60, Ir-192 dan
Cs-137. Bila terdapat metastasis kelenjar limfe
pelvis, harus ditambah radiasi eksternal dengan Co-60
atau akselerator linier.
Kemoterapi terutama digunakan untuk kasus stadium
lanjut atau dipakai bersama dengan operasi dan
radioterapi, biasanya memakai regimen dengan
bleomisin, mitomisin.
Terhadap kasus yang tidak dapat atau tidak sesuai
dioperasi, radioterapi, atau gagal dengan terapi
konvensional, dapat dikerjakan terapi berikut:
1. Kateterisasi intra-arteri untuk kemoterapi
setempat: melalui arteri abdominalis inferior kateter
dimasukkan ke arteri iliaka interna hingga iliaka
komunis, untuk memasukkan obat kemoterapi seperti FU,
NM, BLM, PDD, ADR dll. pilihan pertama adalah NM.
Kelebihan cara ini adalah konsentrasi obat setempat
tinggi, efek buruk sistemik minim.
2. Terapi fotodinamik: terhadap kanker leher rahim,
rongga rahim dan dinding vagina, dapat digunakan
terapi fotodinamik. Mula-mula disuntikkan zat
fotosensitif intravena, 48 jam kemudian di bawah
panduan kolposkopi dimasukkan serat optik, untuk
diberi penyinaran dengan laser merah 630nm, ini dapat
diulangi pada 72 jam, 96 jam. Bila perlu terapi ini
diulangi setengah bulan kemudian. Metode ini membawa
hasil baik pada kanker luas yang relatif superficial,
dengan efek buruk minimal. RS kami memakai cara ini
untuk terapi 8 kasus kanker leher rahim stadium
lanjut, 4 kasus mengalami perbaikan mencolok pasca
terapi, 6 kasus tumornya mengecil separuh lebih.
3. Implantasi biji iodium-125: terhadap tumor yang
terbatas di leher rahim dapat diimplantasi dengan biji
iodium-125. Berdasarkan gambaran CT dapat dikalkulasi
jumlah biji iodium yang perlu ditanamkan, umumnya
antara 50-80 biji. Bila dikombinasi dengan radiasi
eksternal hasilnya lebih baik. RS kami menggunakan
cara ini untuk terapi 11 kasus kanker leher rahim, 9
kasus hasilnya sangat baik.
4. Krioablasi: di bawah panduan kolposkopi, trokar
krioablasi argon-helium ditusukkan ke leher rahim
untuk krioablasi kanker adalah metode yang sederhana
dan aman. RS kami dengan metode ini menerapi 21 kasus
kanker leher rahim, 12 di antaranya adalah kambuhan
pasca operasi, efektivitas 79%, 6 kasus dapat bertahan
hidup 3 tahun lebih. |