Angka kejadian kanker kandung empedu menduduki urutan
ke-5 di antara keganasan sistem pencernaan.
Patogenesisnya belum jelas, mungkin berkaitan dengan
batu empedu, radang kronis, polip, adenoma, kontak
dengan karet dalam jangka panjang, diet kaya akan
garam nitroso dll.
Penyakit ini sering terjadi pada lansia (50tahun),
wanita sedikit lebih banyak dari pria. Operasi adalah
terapi pilihan pertama. Tapi karena penyakit ini
memiliki gejala klinis dan temuan pencitraan yang
tidak khas sehingga sulit didiagnosis dini, sekitar
70% kanker kandung empedu ketika didiagnosis sudah
stadium lanjut, peluang operasi menjadi kecil.
Pasien yang tidak sesuai untuk operasi radikal
mencakup: (1) kanker langsung mengenai saluran empedu
hati, hingga saluran empedu di dalam dan luar hati
menyempit, timbul ikterus obstruktif; (2) metastasis
ke kelenjar limfe local menekan saluran empedu; (3)
kondisi fisik pasien sangat buruk sehingga tidak tahan
operasi. Tindakan paliatif berikut dapat dikerjakan:
1. Operasi radikal kandung empedu standar ditambah
krioablasi argon-helium dan implantasi lokal I-125:
terhadap kanker yang mengenai lapisan otot kandung
empedu, namun tak ada metastasis jauh, kandung empedu
dapat diangkat, dan mengangkat bagian hati yang kontak
dengannya, membersihkan kelenjar limfe di sekitar
ligamen hepatikoduodenum. Untuk lesi yang tidak mudah
dibedah, dapat dilakukan krioablasi, pembersihan di
tempat; untuk daerah yang belum dapat dibersihkan
total, ditanam I-125 untuk radiasi lokal.
2. Operasi kolateral ditambah terapi fotodinamik dan
krioablasi dan implantasi biji I-125: ini sesuai untuk
kandung empedu yang tak dapat diangkat, kanker sudah
mengenai saluran empedu dan menyumbat saluran empedu.
Saluran empedu dalam hati yang melebar dan jejunum
dilakukan anastomosis Roux-Y, sering digunakan
anastomosis koledokojejunum. Sebelum operasi
disuntikkan zat fotosensitif, sewaktu operasi melalui
saluran empedu dimasukkan serat optik untuk
menyalurkan laser dengan panjang gelombang tertentu
menyinari kanker tersebut. Sedapat mungkin menyinari
semua bagian yang terkena kanker, ini disebut terapi
fotodinamik. Terhadap kanker yang tampak di luar
saluran empedu, digunakan krioablasi argon-helium
untuk membersihkannya. Untuk daerah yang masih belum
bersih dari kanker, ditanam biji I-125 untuk radiasi
lokal.
3. Teknik drainase duktus koledokus intervensional:
metode ini terbagi atas drainase internal dan
eksternal. Melalui jalur menembus kulit dan hati, atau
melalui papila duodeni, dimasukkan sten duktus
koledokus dari logam yang dapat melebar untuk
melebarkan dan menopang duktus koledokus.
4. Radioterapi: kanker kandung empedu cukup peka
terhadap radioterapi. Penyinaran sebelum operasi dapat
meningkatkan keberhasilan operasi radikal. Penyinaran
sewaktu operasi penentuan lokasinya tepat,
kedalamannya tnggi, dapat mengurangi atau mencegah
rudapaksa radiasi terhadap jaringan sehat. Penyinaran
pasca operasi didasarkan atas daerah lesi yang
ditemukan waktu operasi, dilakukan penyinaran luar,
secara prinsip harus mencakup lesi primer dan kelenjar
limfe regional. Juga dapat dilakukan pungsi perkutan
di bawah panduan USG, ditanamkan I-125 untuk radiasi
jarak dekat.
5. Kemoterapi melalui kateterisasi arteri hepatik:
mula-mula dilakukan kateterisasi selektif arteri
abdominal dan arteri hepatikus komunis, secara kontinu
diinfuskan MMC, 5FU dan obat kemoterapi lain, setiap 6
minggu diulangi 1 kali. Bila terdapat metastasis hati,
dilakukan pula terapi kemoembolisasi arteri hepatik.
Juga dapat ditanam pompa subkutis untuk menginfuskan
kemoterapi ke dalam arteri hepatik, secara
terus-menerus menyuntikkan obat kemoterapi,
efektivitasnya mencapai 48%.
Terapi terhadap kanker kandung empedu dewasa ini belum
memuaskan. Tindakan terbaik adalah menggabungkan
operasi dan teknologi canggih, seperti krioablasi,
fotodinamik, dan implantasi I-125.
Kami memiliki 12 pasien yang telah menjalani reseksi
radikal standar terhadap kandung empedu ditambah
krioablasi dan implantasi I-125 lokal, 5 pasien
menjalani operasi kolateral ditambah terapi
fotodinamik, krioablasi dan implantasi I-125 lokal.
Hingga kini 9 pasien sudah bertahan di atas 13 bulan,
yang terlama sudah bertahan 28 bulan. |