Kanker primer hati (hepatoma) merupakan salah satu
tumor ganas paling sering ditemukan di China dan
kawasan Asia Tenggara. Dasar terapinya adalah operasi,
yang sesuai untuk: (1) hepatoma kecil, terutama
diameternya kurang dari 5cm dan tunggal, (2) kambuh
setelah operasi, tapi lesinya kecil, jumlahnya tidak
lebih dari 2-3 buah, (3) setelah terapi cara lain,
lesi mengecil hingga dapat dioperasi. Operasi mencakup
reseksi tumor dan pencangkokan hati.
Terhadap hepatoma yang tidak dapat dioperasi, dapat
digunakan terapi kombinasi, tujuannya agar kanker yang
semula tidak dapat dioperasi berubahan menjadi mungkin
dioperasi total. Metode terapi kombinasi meliputi:
TACE (transarterial chemoembolisation); krioablasi
perkutan, seperti krioablasi, abalasi dengan
radiofrekuensi, gelombang mikro, laser intensitas
tinggi, injeksi alkohol absolut dll.
Berdasarkan pengalaman kami, terapi sekuensial berikut
ini harus menjadi pilihan utama:
1. Terapi sekuensial krioablasi perkutan dan TACE:
Terhadap hepatoma besar yang tak dapat dioperasi, TACE
merupakan metode pilihan pertama yang tersering
dipakai. Tapi metode itu hanya bersifat paliatif, atau
menjadi £¦jembatan£ª menuju metode terapi lainnya,
karena ia sendiri tidak dapat menyembuhkan hepatoma.
Setelah ukuran kanker dalam hati mengecil, harus
diupayakan operasi pengangkatan atau krioablasi.
Krioablasi dapat merusak sel kanker secara langsung,
atau mengoklusi pembuluh darah, membuat sel kanker
kekurangan oksigen hingga mengalami nekrosis. Itu
dapat dilakukan di bawah panduan USG atau CT-scan,
menembus kulit mencapai target ablasi, sehingga luka
pada pasien sangat kecil.
Dengan melakukan kemoembolisasi lebih dahulu dan
disusul krioablasi pada hepatoma progresif hasilnya
dapat setara dengan kemoembolisasi dan operasi. Selama
periode Maret 2001 hingga Juni 2005 terdapat 565 kasus
hepatoma ke RS kami, 360 di antaranya menjalani terapi
sekuensial kemoembolisasi perkutan dan krioablasi,
dalam 6-36 bulan 71% tumor lenyap atau menyusut, angka
survival setengah tahun 90,6%, 1 tahun 70,0%, 2 tahun
52,1%, 3 tahun 41,1%.
2. Terapi sekuensial krioablasi perkutan dan injeksi
alkohol: di dalam £¦bola salju£ª yang terbentuk pada
krioablasi, penurunan temperatur tercepat dan terbesar
terjadi di bagian tengah, destruksi terhadap sel
kanker juga terhebat; sedangkan di bagian tepi
penurunan temperatur lebih lambat, suhunya juga lebih
tinggi, sehingga mungkin ada sel kanker yang selamat.
Sel kanker yang masih hidup memungkinkan terjadinya
kekambuhan. Alkohol dapat berdifusi ke dalam sel
kanker, menimbulkan denaturasi protein dan dehidrasi
sel kanker, hingga terjadi nekrosis koagulatif. Oklusi
mikrovaskular dengan pendinginan juga menimbulkan
kematian sel kanker. Maka setelah krioablasi membasmi
sebagian besar sel kanker, ke sekeliling tumor
disuntikkan alkohol absolut dapat membasmi jaringan
kanker yang tertinggal dan mencegah kekambuhan. Kami
selama periode Maret 2001 hingga Januari 2003 telah
melakukan terapi sekuensial krioablasi perkutan dan
injeksi alkohol absolut atas 65 kasus hepatoma. Pada
36 kasus dengan diameter tumor lebih besar dari 6cm,
1-2 minggu setelah krioablasi diberikan terapi injeksi
alkohol absolut. Hasilnya dalam 21 bulan, 50,8% kanker
lenyap, 32,3% meskipun tumor masih ada tapi pasien
tetap hidup, 78,0% sudah bertahan hidup 2 tahun lebih.
Di antara kasus dengan kadar AFP tinggi sebelum
terapi, 91,3% setelah terapi turun menjadi normal atau
mendekati kadar normal. Pada 17 kasus terjadi
kekambuhan dalam hati, tapi hanya 3 kasus yang
kekambuhan terjadi di lokasi krioablasi semula. Hasil
ini jelas berkaitan dengan terapi injeksi alkohol.
Pencangkokan hati secara teoritis adalah terapi paling
ideal untuk hepatoma. Pada hepatoma kecil, khususnya
yang disertai sirosis hati dianjurkan untuk cangkok
hati. Di dunia, ada satu pasien hepatoma pasca cangkok
hati yang bertahan hidup terlama, praoperasi
didiagnosis sebagai atresia koledokus kongenital,
sewaktu dioperasi ditemukan sebagai kanker duktus
empedu intrahepatik, setelah dilakukan cangkok hati
hingga kini telah hidup 32 tahun, ia telah menikah,
hidup berkeluarga bahagia. Tidak sedikit pakar
berpendapat, untuk terapi hepatoma kecil cangkok hati
lebih baik dari lobektomi, pasien cangkok hati yang
dapat bertahan hidup 3 tahun mencapai 83%, 5 tahun
35,6%. Dewasa ini kasus hepatoma kecil disertai
sirosis terapi pilihan pertama adalah cangkok hati,
alasannya adalah: hepatoma yang timbul di atas sirosis
sering kali bersifat multifokal, bila direseksi satu,
di tempat lain akan timbul kanker lagi, sedangkan
sirosis bersifat progresif, bila hanya dilakukan
lobektomi, tidak mungkin dapat menyembuhkan sirosis,
bahkan sering kali hipertensi portal dipersulit dengan
perdarahan hebat dan kegagalan fungsi hati, risiko ini
jauh melebihi kekambuhan pasca cangkok hati.
Hepatoma besar atau stadium lanjut apakah sesuai untuk
cangkok hati? Pendapat dewasa ini masih kontroversial.
Pada umumnya cangkok hati dipandang sebagai kartu as
untuk terapi berbagai kelainan hati. Dengan kata lain,
itu adalah tindakan terakhir bila cara lain tidak
efektif. Di dunia, dari 10 kasus cangkok hati, 8 kasus
adalah penderita berbagai jenis tumor ganas hati.
Dengan berkembangnya cangkok hati, ditemukan banyak
kekambuhan pada pasca cangkok hati pada pasien
hepatoma stadium lanjut, 60% meninggal dalam setengah
tahun pasca cangkok hati. Dari 4 sentrum cangkok hati
di dunia (Pittsburg di Amerika Serikat, Cambridge di
Inggris, Villejuif di Prancis dan Gronigen di Belanda)
total terdapat 130 kasus hepatoma menerima cangkok
hati, pasca pencangkokan hanya 20% yang bertahan hidup
1 tahun. Jadi, pengorbanan begitu banyak tenaga dan
materihanya mendapatkan angka survival 1 tahun 20%,
belum lagi pasca cangkok memerlukan terapi
imunosupresi jangka panjang, maka tampaknya kurang
layak. Tapi ada juga pendapat, pasca cangkok hati
jangka pendek kondisi pasien baik, mereka dapat makan
dan minum seperti orang normal, hidup mandiri,
kebanyakan pasien memiliki masa survival lebih panjang
dibandingkan pasien yang tidak dilakukan pencangkokan,
maka dianggap bila kondisinya mungkin, masih layak
dilakukan cangkok hati.
Menurut hemat penulis, evaluasi peranan cangkok hati
pada terapi kanker hati masih terlalu dini. Angka
survival pasien pasca cangkok hati di berbagai tempat
dewasa ini, dapat dicapai dengan metode lain, bahkan
dapat melebihi hasil cangkok hati. Tapi bila terdapat
kondisi berikut ini cangkok hati dapat
dipertimbangkan: (1) hepatoma kecil, sirosis berat,
disertai dekompensasi hati atau fungsi hati sangat
buruk, sulit menerima lobektomi; (2) hepatoma dengan
derajat keganasan rendah, seperti hepatoma fibrotik,
hepatoma AFP negative; (3) tumor hati yang tak dapat
dioperasi, seperti kanker duktus empedu porta hepatik. |