Angka kejadian kanker ginjal cenderung meningkat
belakangan ini. Di Amerika Serikat setiap tahun
terdapat 27.000 lebih kasus baru, insiden di Asia
lebih rendah dari negara Eropa dan Amerika. Pada kasus
yang jarang, kanker ginjal dapat remisi spontan, tumor
metastatik di paru dapat mengecil atau lenyap setelah
lesi primernya diangkat. Angka survival pasien kanker
ginjal dengan metastasis ditentukan oleh daya imun
pasien. Penggunaan imunoterapi spesifik ataupun
nonspesifik sering kali efektif.
Operasi radikal merupakan metode terapi efektif untuk
kanker ginjal. Tapi pada waktu diagnosis, 25-57%
pasien sudah memiliki metastasis, yang tersering ke
paru, kelenjar limfe, hati dan tulang. Untuk kasus
stadium lanjut yang tak dapat dioperasi, dapat
dilakukan tindakan berikut:
1. Terapi krioablasi argon-helium: sering kali di
bawah panduan USG atau CT-scan, ditusukkan perkutan,
terhadap tumor di ginjal dan metastasis yang tampak
dilakukan krioablasi, secara efektif dapat
membersihkan kanker, keberhasilannya di atas 80%.
2. Metode intervensi vaskular: dilakukan kateterisasi
perkutan melalui arteri femoralis, hingga mencapai
arteri renalis dan cabang arteri kecil yang memasok
tumor ginjal, disuntikkan zat embolisasi, jaringan
kanker akan mengalami iskemia dan nekrosis. Dapat
disuntikkan juga kemoterapi, biasanya dengan FU, DDP,
dll. hingga timbul konsentrasi tinggi setempat yang
mematikan sel kanker.
3. Terapi endokrin: kejadian kanker ginjal mungkin
terkait dengan disregulasi hormonal, penggunaan
progesteron atau estrogen dapat meredakan sebagian
pasien. Penggunaan medroksi progesteron terhadap 228
kasus kanker ginjal, angka keberhasilan 20% lebih.
Testosterone propionat, tamoksifen juga pernah dipakai
untuk terapi kanker ginjal stadium lanjut, ada
keberhasilan tertentu.
4. Terapi biologi: terapi ini memiliki efek khusus
atas kanker ginjal, metode yang sering digunakan
adalah:
(1) Penggunaan sel LAK+ interleukin-2: mula-mula
disuntikkan interleukin-2, berturut-turut 4-5 hari,
lalu darah perifer pasien diambil, sel limfosit
dipisahkan, ditambahkan interleukin-2 dan dibiakkan di
luar tubuh, setelah 3-4 hari akan dihasilkan sel
pembunuh diaktifkan limfokin yaitu sel LAK, yang
diinfuskan kembali ke tubuh pasien. Di Amerika Serikat
dilaporkan metode ini untuk terapi 124 kasus kanker
ginjal, angka efektivitas 35%. Tapi efek sampingnya
besar, dapat menimbulkan udem dan kerusakan paru.
(2) Interferon: sering digunakan interferon-alfa,
3juta unit, tiap minggu diinjeksi 3 kali subkutis atau
intramuscular, secara bertahap ditingkatkan hingga 9
juta unit, 3 kali seminggu, total 8 minggu. Jika
efektif dapat diperpanjang waktu penggunaannya.
Efektivitas 16%.
(3) Kombinasi interferon dan kemoterapi: mula-mula
diinfuskan 1000mg FU intravena, selama 5 hari
berturut-turut, seraya diberikan interferon alfa 3juta
unit intramuscular, 28 hari sebagai satu siklus, total
digunakan 3 siklus. Menurut penelitian di Amerika
Serikat dan Prancis, efektivitas metode ini pada
kanker ginjal stadium lanjut mencapai 30-47%. Ada juga
yang menggunakan interferon-alfa 6juta unit setiap
hari subkutis, interleukin-2 3juta unit secara
intravena berturut-turut selama 5 hari, seraya
diberikan FU 1000mg tiap hari secara intravena, total
5 hari, 28 hari sebagai satu siklus, total 2-3 siklus.
(4) Vaksinasi sel dendritik (DC): DC merupakan jenis
sel satu-satunya yang telah diketahui paling kuat
mengaktifkan sel T istirahat dalam tubuh dengan
berfungsi sebagai penyaji antigen. Ia merupakan mata
rantai sentral dalam aktivasi, regulasi dan
mempertahankan respons imun. Nefroblastoma termasuk
tumor imunogenik, dengan memanfaatkan sel kanker utuh
atau materi pecahan tumor sebagai antigen tumor
menginduksi DC, menjadikan vaksen tumor DC, yang bila
diinfuskan kembali ke tubuh pasien dapat berfungsi
melawan kanker ginjal. Pakar Amerika Serikat memfusi
DC autogen immatur dan sel kanker autogen,lalu DC
bersifat campuran ini diinfuskan lagi ke dalam tubuh 7
pasien nefroblastoma (primer dan metastatik), hasilnya
menunjukkan respons parsial. Pakar Eropa meneliti 17
pasien nefroblastoma progresif, secara subkutis
diinjeksikan vaksen DC hasil fusi dari 5¨G107 sel
kanker autolog dan 5¨G107 sel DC autolog. Hasilnya: 6
pasien menunjukkan respons klinis, 4 pasien tumornya
remisi total, 2 pasien remisi parsial. |