Terapi kanker nasofaring terutama meliputi
radioterapi, operasi dan kemoterapi. Radioterapi
merupakan terapi paling efektif, setiap pasien yang
pada waktu diagnosis belum menunjukkan metastasis
multipel harus terlebih dulu menerima radioterapi,
atau radioterapi plus kemoterapi. Bila lesi relatif
terbatas, tanpa penyebaran ke klavikula ke bawah,
metastasis ke kelenjar limfe servikal kurang dari 8cm,
dapat dilakukan radioterapi radikal, bila terdapat
satu metastasis jauh atau kelenjar limfe servikal
lebih besar dari 8cm dapat dilakukan radioterapi
paliatif.
Karena umumnya kanker nasofaring adalah karsinoma sel
skuamosa diferensiasi buruk atau tidak
berdiferensiasi, derajat keganasan tinggi, cepat
pertumbuhannya, maka sering kali lebih peka terhadap
kemoterapi dibandingkan karsinoma sefaloservikal lain.
Dengan kemoterapi obat tunggal angka remisi sekitar
30%, dengan kemoterapi kombinasi dapat mencapai 66%.
Regimen kemoterapi kombinasi yang sering digunakan
adalah PF, yaitu cisplatin ditambah fluorourasil,
21-28 hari sebagai satu kuur. Ditambah kalsium folinat
untuk meningkatkan efek terapi.
Operasi bukan pilihan pertama pada karsinoma
nasofaring, umumnya hanya digunakan terhadap lesi yang
tersisa pasca kemoterapi atau radioterapi.
Masalah dalam terapi karsinoma nasofaring sekarang ini
adalah: efektivitas jangka pendek baik, efektivitas
jangka panjang tidak ideal. Bagaimana meningkatkan
efektivitas? Setelah terapi konvensional gagal,
bagaimana terapinya? Tindakan yang dapat dilakukan
adalah:
1. Kemoterapi: sebelum radioterapi, sebelum terjadi
fibrosis akibat radioterapi, ketika vaskularisasi
local masih baik, gunakan kemoterapi, dapat mengurangi
jumlah sel kanker, meningkatkan sensitivitas
radioterapi. Kemoterapi pasca radioterapi dapat
membasmi mikrokarsinoma yang tersisa, mengurangi
metastasis jauh.
2. Kemoterapi dan radioterapi serentak: dalam proses
radioterapi ditambah kemoterapi, dapat menyusutkan
tumor, memperbaiki pasokan darah, meningkatkan
sensitivitas radioterapi. Banyak obat kemoterapi
seperti DDP, MTX, FU, MMC dll. berefek meningkatkan
sensitivitas terhadap radiasi, obat tertentu seperti
hidroksilurea yang berefek terhadap fase sintesis DNA
sel dapat menyeragamkan fase, sehingga kebanyakan sel
kanker terhambat pada fase G1 hingga meningkatkan
sensitivitas terhadap radioterapi.
3. Kemoterapi dengan kateterisasi ke arteri setempat:
melalui arteri temporalis superfisialis dilakukan
kateterisasi retrograd menginfuskan obat kemoterapi
dapat mencapai konsentrasi obat setempat yang tinggi
untuk membasmi kanker. Ini sesuai terutama pada kanker
lokal yang tidak remisi pasca radioterapi, atau pada
rekurensi lokal menginfiltrasi parafaring dan basis
kranial.
4. Terapi fotodinamik: sel kanker dapat secara khusus
mengikat zat fotosensitif, mula-mula disuntikkan zat
fotosensitif, 48 jam kemudian dimasukkan serat optik
hingga ke tepi kanker nasofaring, disalurkan laser
merah 630nm. Di bawah penyinaran laser, zat
fotosensitif mengatalisis molekul oksigen (O2) menjadi
oksigen tunggal yang berefek sitotoksik hingga
membasmi sel kanker. Metode ini terutama sesuai bagi
kanker yang tersisa di rongga nasofaring atau kasus
yang sudah menginfiltrasi basis kranial. Kami dengan
metode ini telah menerapi 14 kasus karsinoma
nasofaring stadium lanjut, semuanya efektif. Untuk
pasien yang kambuh setelah terapi konvensional, metode
ini dapat menjadi pilihan utama.
5. Implantasi biji iodium-125: di bawah panduan CT
atau endoskop, terhadap lesi yang tertinggal atau
rekuren, ditanamkan biji iodium-125. Biji itu dapat
melepaskan sinar gama jarak pendek yang menyinari
secara kontinu jaringan kanker sekitarnya. Metode ini
sederhana, efek sampingnya kecil.
6. Imunoterapi: dari pasien karsinoma nasofaring
dikeluarkan darah tepinya, dipisahkan sel
mononukleusnya, ditambahkan interleukin-2 dan
diinkubasi ekstrakorporal untuk menginduksi produksi
sel dendritik. Kemudian dari pasien karsinoma
nasofaring dikeluarkan sel kankernya, dinonaktifkan,
diinkubasikan bersama sel dendritik selama 7-10 hari,
dapat dihasilkan vaksen sel dendritik anti karsinoma
nasofaring. Vaksen ini lalu diinfuskan intravena atau
diinjeksikan subkutis atau ke dalam kelenjar limfe
metastasis. Dengan metode ini kami telah menerapi 31
kasus karsinoma nasofaring stadium lanjut, 9 kasus
menunjukkan respons imun yang sangat baik. |